Jumat, 07 Desember 2012

Nabi Khidir Masih Hidup?

tanya

Masih ingat kisah nabi Khidir Nabi Musa? Jika udah lupa, atau ada yang belum tahu, silahkan baca-baca dulu di sini, kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa.
Benarkah Nabi Khidir masih Hidup sampai sekarang? dimanakah keberadaannya?
berikuta adalah beberapa pendapat Ulama dan para pembesar islam tentang Nabi Khidir.

Nabi Khidir Masih Hidup?

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah :

وقد احتج بهذه الاحاديث من شذ من المحدثين فقال الخضر عليه السلام ميت والجمهورعلى حياته
سبق في باب فضائله ويتأولون هذه الاحاديث على انه كان على البحر أو انها عام مخصوص

“Sungguh telah berhujjah dengan hadits ini (hadits = Rasul saw bersabda bahwa setelah
100 tahun maka tak tersisa lagi yang hidup diantara kita didaratan ini), mereka yang
salah dari para periwayat hadits yang mengatakan bahwa Khidir as sudah wafat, dan
Jumhur (pendapat yang terkuat dan terbanyak) mengatakan bahwa ia hidup, sebagaimana
dijelaskan dalam Bab keutamaannya, dan mereka menakwilkan hadits – hadits ini bahwa
dia (khidir as) di laut dan bukan di daratan, atau hadits itu bermakan ‘Aammun makhsush
(maknanya umum tetapi ada pengecualian
). (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz
16 hal 90)

قال أبو اسحق يقال ان هذا الرجل هو الخضر عليه السلام أبو اسحق هذا هو ابراهيم بن سفيان راوى
الكتاب عن مسلم وكذا قال معمر فى جامعة فى أثر هذا الحديث كما ذكره ابن سفيان وهذا لبعض منه
بحياة الخضر عليه السلام وهو الصحيح
Berkata Imam Nawawi, bahwa berkata Abu Ishaq :
“Dikatakan bahwa lelaki ini (hadits= lelaki yang dibunuh Dajjal lalu dihidupkan kembali, lalu akan dibunuh lagi namun Dajjal tak mampu berbuat kedua kalinya) adalah Khidir as, dan adapun Abu Ishaq ini adalah Ibrahim bin Sufyan, periwayat kitab dari Muslim, dan demikian pula dikatakan
oleh Ma’mar dalam Jaami’ah dalam penjelasan hadits ini, sebagaimana dijelaskan pula oleh Ibn Sufyan, dan ini adalah bagian dari kehidupan Khidir as dan ini adalah shahih
."
(Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 18 hal 72)

قال جعفر بن محمد فأخبرني أبي أن علي بن أبي طالب قال أتدرون من هذا هذا الخضر عليه
السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata – kata
dan doa), lalu berkata Ja’far bin Muhammad, dikabarkan oleh ayahku bahwa Ali bin Abi
Thalib kw berkata : “tahukah kalian siapa lelaki ini?, ia adalah Khidhir alaihissalam”
(Tafsir Imam Ibn katsir Juz 1 hal 436)

قال جعفر بن محمد فأخبرني أبي أن علي بن أبي طالب قال أتدرون من هذا هذا الخضر عليه
السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata dan doa) lalu berkata Ja’far bin Muhammad, dikabarkan oleh ayahku bahwa Ali bin Abi Thalib kw berkata : “tahukah kalian siapa lelaki ini?, ia adalah Khidhir alaihissalam”
(Tafsir Imam Ibn katsir Juz 1 hal 436)

فقال بعضهم لبعض تعرفون الرجل فقال أبو بكر وعلي نعم هذا أخو رسول الله صلى الله عليه
والخضر عليه السلام
(ketika Rasul saw wafat, maka datanglah seorang pelayat yang mengucapkan kata - kata
dan doa) maka berkatalah para sahabat satu sama lain : kalian tahu siapa lelaki itu?,
maka berkata Abubakar dan Ali : Ya, ini adalah saudara Rasulullah saw Al Khidhir
alaihissalam. (Mustadrak Alaa Shahihain No.4392).

Sekian semoga bermanfaat...NABI KHIDIR MASIH HIDUP? APAKAH NABI KHIDIR MASIH HIDUP>
wassalamualaikum 

Kamis, 06 Desember 2012

KISAH SANG JENDRAL DAN PENGEMBALA BEBEK

Kumpulan Cerita Inspiratif Dan Motivasi

Seorang jenderal panglima perang beserta sisa pasukannya baru saja kembali dari medan pertempuran. Mereka terlihat sangat kelelahan dan nampak sebagian dari mereka terluka. Perjalanan mereka terhenti
di sebuah sungai dan mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengobati prajurit yang terluka. Saat perjalanan akan dilanjutkan mereka harus menyeberangi sungai itu, air sungai nampak tenang dan membuat sang jenderal mencari-cari lokasi yang dianggapnya tepat untuk menyeberang.

Tak jauh dari tempat itu nampak seorang pengembala bebek, dan sang jenderal bertanya "Hey penggembala bebek, kami harus menyeberang sungai ini, tunjukkan disebelah mana tempat yang aman untuk kami menyeberangi sungai ini?" Si penggembala bebek tergopoh-gopoh berlari mendekati sang jenderal dan segera menunjukkan arah tak jauh dari tempatnya berdiri dimana bebek-bebeknya berada.


Sang jenderal segera menginstruksikan beberapa prajuritnya untuk menaiki kuda masing-masing dan masuk ke sungai ditempat yang ditunjukkan oleh si penggemabal bebek. Namun apa dinyana sesampai ditengah sungai, kuda yang berada di barisan paling depan terperosok dan penunggangnya terjatuh hingga nyaris hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tertolong oleh rekan-rekan prajurit lainnya.


Sang jenderal sangat marah dan segera memerintahkan para prajuritnya menangkap si penggembala bebek dan bersiap untuk memenggal kepalanya. "Hey anak muda, sungguh berani sekali kamu menyesatkan kami, hampir saja prajuritku mati gara-gara kamu" si penggembala bebek menangis ketakutan seraya memohon ampun, katanya terbata-bata "Ampun.. ampun.. Tuan.. sungguh saya tidak bermaksud mencelakakan Tuan" Sang jenderal makin geram dan berteriak "Kamu lihat sendiri, arah yang kamu tunjukkan adalah salah, sungai disana sangat dalam dan seekor kuda telah mati gara-gara kamu!"


"Ampun.. Tuan, ampun.. bukankah tadi di tempat itu bebek-bebek saya berenang dengan aman?"


Kali ini sang jenderal tertegun, sejenak berpikir lalu tersadarkan bahwa dirinya telah salah bertanya kepada orang yang tidak tepat. Serta merta dia memerintahkan prajuritnya untuk membebaskan si penggembala bebek itu.



RENUNGAN
Bila ingin berhasil bertanyalah kepada mereka yang telah berhasil melaluinya bukan bertanya kepada mereka yang hanya melihat orang-orang  yang telah berhasil


Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa?



Mungkin sebagian anda pernah mendengar kisah ini, Kisah NABI KHIDIR Alaihissalam dan Nabi Musa Alaihissalam. Ya kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa ini sangat populer dikalangan masyarakat. Pada kesempatan ini saya ingin menceritakannya kembali di blog ini, bagi anda yang sudah bisa bernostalgia dengan membaca kisah ini, bagi yang belum dan sudah agak lupa, silahkan dibaca, karna kisah ini kisah yang sangat menarik...semoga bermanfaat.

Suatu hari Nabi Musa a.s mengumpulkan para pengikutnya beliau memberikan nasehat agar para pengikutnya selalu beriman kepada Allah dan beriman pada hari akhir serta hal-hal yang gaib.
“Wahai kaumku adakah orang yang paling mengetahui hal-hal yang gahib?” tanya Nabi Musa pada suatu kesempatan.
“tidak ada satupun di antara kami yang mengetahui hal tersebut, wahai Musa” kata salah satu pengikutnya.
“ketahuilah bahwa aku adalah manusia yang paling mengetahui hal-hal yang ghaib” kata Nabi Musa.

Mendengar perkataan Nabi Musa, kaumnya hanya mengangguk-angguk saja.
Setelah kejadian itu, Nabi Musa ditegur oleh Allah swt, “Wahai Musa! Engkau tidak berhak berkata demikian. Ketahuilah, hai Musa ada hamba-ku yang paling mengetahui hal ghaib”
“siapakah hamba-mu itu, ya Allah?” tanya Nabi Musa penasaran.
“Jika engkau akan menemui hamba-ku, maka berjalanlah engkau. Jika sudah berada diantara pertemuan dua buah lautan maka berhentilah. Dia bernama Khidir” perintah Allah.


Nabi Musa kemudian pergi bersama sahabatnya yang bernama Yusya bin Nun dengan membawa ikan yang diletakkan di dalam keranjang sebagai perbekalan. Keduanya pergi dengan berjalan kaki. Sesampainya di sebuah batu yang ada di pinggir pantai, mereka berhenti. “Wahai sahabatku, sebaiknya kita berhenti sejenak untuk menghilangkan rasa lelah kita” kata Nabi Musa.
Ketika mereka beristirahat tanpa disadari ikan yang ada di dalam keranjang melompat dan jatuh kedalam laut, ikan itu masuk kedalam sebuah lengkungan yang sebelumnya sudah Allah sediakan, Yusya sangat terkejut melihat kejadian itu.
“masya Allah, apa yang telah terjadi dengan ikan yang kita bawa. Mengapa ikan itu dapat hidup kembali dan melompat ke arah laut?” tanya sahabat Nabi Musa dalam hatinya.
Setelah itu, Nabi Musa dan sahabatnya kemudian melanjutkan perjalanannya yang jauh, ketika mereka merasa lelah kembali dalam perjalanan, akhirnya mereka beristirahat sejenak.
Nabi Musa berkata kepada sahabatnya, “sahabatku sebaiknya kita beristirahat sejenak. Tolong keluarkan ikan yang kita bawa tadi”
Sahabat Nabi Musa beru teringat akan kejadian yang sebelumnya terjadi dan berkata “mohon maaf wahai Nabi Musa aku lupa memberitahukan bahwa ketika kita berhenti disebuah batu yang ada dipinggir laut, ternyata ikan itu melompat ke arah laut dengan cara yang aneh”
Nabi Musa pun berkata “Wahai sahabatku, itulah tempat yang kita cari selama ini! kalau begitu segera kita menuju kesana!”
Kemudian mereka berputar kembali ke arah yang sebelumnya. Sesampainya mereka di tempat yang dituju, yaitu pertemuan dua lautan, Nabi Musa melihat seseorang yang sedang duduk berselimutkan pakaian yang rapat.
Nabi Musa pun mengucapkan salam kepada orang yang sedang duduk tadi “assalamualaikum aku Musa. Apakah engkau yang bernama Khidir?” tanya Nabi Musa.
“waalaikumussalam, betul aku Khidir” jawab Nabi Khidir. “apakah betul engkau Musa dari Bani Israil?” tanya Khidir lagi.
“betul, ya Khidir” jawab Nabi Musa. “Wahai saudaraku Khidir, bolehkah aku mengikutimu untuk belajar ilmu yang engkau miliki?” pinta Nabi Musa.
“Wahai saudaraku Musa, ketahuilah sesungguhnya engkau, memiliki ilmu yang Allah ajarkan kepadamu yang aku tidak dapat mengetahuinya” jawab Nabi Khidir.
“Musa, sekali-kali Engkau tidak akan sabar bersama dengan diriku nanti” tambah Nabi Khidir.
“tolonglah wahai Khidir aku ingin sekali mengetahui ilmumu” pinta Nabi Musa.
“baiklah, jika Engkau ingin berilmu denganku, Engkau jangan sekali-kali bertanya dan menggugat apa yang aku lakukan” pinta Khidir.
“baik, aku akan melakukan apa yang kamu pinta” jawab Nabi Musa
Musa pun menyetujui permintaan Nabi Khidir. Nabi Musa dan Khidir kemudian berjalan sampai ke sebuah tepian pantai. Disana banyak terlihat perahu-perahu yang sedang bersandar. Mereka meminta kepada salah satu pemilik perahu untuk mengantarkan mereka ke seberang lautan.
“Wahai saudaraku, maukah engkau mengantarkan kami berdua ke seberang lautan?”  pinta Khidir.
Karena pemilik perahu sangat mengenal Nabi Khidir, pemilik perahu pun mengizinkan keduanya naik ke perahu dan mengantarkan mereka ke seberang lautan.
Kemudian datanglah seekor burung dan hinggap diatas layar perahu. Dilihatnya burung itu menukik kearah laut beberapa kali. Tiba-tiba Nabi Khidir berkata kepada Nabi Musa “Wahai Musa ilmu yang kita miliki tidak sebanding dengan ilmu Allah, ilmu kita hanyalah seperti lubang yang dibuat burung itu di laut”
Lalu Nabi Khidir bersandar ke dinding perahu dan langsung membocorkan perahu itu.
Alangkah kagetnya Nabi Musa melihat apa yang telah dilakuakn Nabi Khidir
“Wahai, Khidir! Apa yang telah engkau lakukan? Engkau telah merusak perahu milik orang yang telah memberikan kita tumpangan gratis. Bukankah perbuatanmu itu dapat merugikan si pemilik perahu? Kata Nabi Musa penasaran.
“Hai Musa, Engkau tidak boleh menanyakan apa yang telah aku lakukan. Kalau engkau ingin mengetahui ilmuku hendaknya diam” pinta Nabi Khidir
“maaf wahai saudaraku, aku khilaf dan lupa persetujuan kita. Mohon Engkau tidak menghukumku karena kekhilafanku” jawab Nabi Musa
Nabi Musa pun kemudian terdiam.
Akhirya mereka berdua pun sampai diseberang lautan dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan wajahnya. Tiba-tiba Nabi Khidir menghampiri pemuda tersebut dan langsung membunuhnya. Alangkah kagetnya Nabi Musa melihat kejadian tersebut. Musa pun berkata, “Hai saudaraku Khidir, mengapa engkau membunuh pemuda yang tidak bersalah dan berdosa itu?”
Mendengar perkataan Nabi Musa, Nabi Khidir pun berkata “Hai Musa, kalau engkau bertanya lagi apa yang telah aku lakukan, maka Engkau harus meninggalkan diriku”
Nabi Musa pun hanya terdiam melihat kejadian itu. Kemudian mereka berdua melanjutkan perjalanan kembali. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, sampailah mereka berdua di sebuah desa yang penduduknya terkenal kikir. Nabi Khidir memutuskan untuk beristirahat di desa tersebut. Karena mereka lapar. Nabi Khidir bermaksud meminta sedikit makanan dari penduduk desa tersebut. Satu persatu penduduk rumah mereka kunjungi.
“assalamualaikum, bolehkan kami meminta sedikit makanan untuk mengganjal perut kami yang kosong?” pinta Nabi Khidir
Namun, bukan makanan yang mereka dapatkan melainkan makian dan cacian.
“enak saja, kamu meminta-minta. Tak sudi aku membagi makanan pada kalian” hardik penduduk desa.
Nabi Musa dan Nabi Khidir hanya tersenyum saja menanggapi cacian penduduk desa. Karena tidak dapat pertolongan, mereka memutuskan meninggalkan desa tersebut. Ketika mereka sampai di perbatasan desa, Nabi Khidir melihat sebuah rumah yang hampir roboh. Saat itu juga Nabi Khidir memperbaiki rumah itu. Dalam waktu singkat, rumah itu kembali berdiri kokoh. Melihat itu Nabi Musa merasa heran dan berkata “Wahai Nabi Khidir, apa yang telah engkau lakukan? Bukankah penduduk desa ini terlah menghina dan mengusir kita? Bahkan kita tidak diberikan makanan sedikitpun. Mengapa engkau memperbaiki rumah penduduk itu dengan tidak meminta upah dari mereka?”
Nabi Khidir hanya tersenyum dan berkata dengan lembut kepada Nabi Musa “Wahai Musa, ternnyata Engkau tidak sabar dengan apa yang aku lakukan! Kalau begitu, wahai Musa cukup Engkau bersamaku sampai disini”
“baiklah, hai Musa akan aku jelaskan mengapa aku melakuakn tiga hal yang kamu anggap aneh” kata Nabi Khidir lagi
“tolong jelaskan apa yang telah engkau lakukan agar aku paham” sambung Nabi Musa
“pertama, ketika aku membocorkan perahu. Ketahuilah bahwa sang pemilik perahu adalah nelayan yang sangat miskin dan hanya hidup dari perahu tersebut. Tak lama setelah kita meninggalkan tempat itu datang gerombolan perampok yang membawa pergi perahu-perahu milik nelayan. Semua perahu yang bagus-bagus dirampas oleh para perampok, yang tersisa hanyalah perahu si nelayan miskin yang sebelumnya telah aku bocori” kata Nabi Khidir
“kedua, ketika aku membunuh seorang pemuda. Ketahuilah bahwa pemuda itu seorang penyembah berhala. Pemuda itu hendak pulang kerumah orang tuanya untuk mengajak mereka menyembah berhala. Sementara kedua orang tuanya sejak lama beriman kepada Allah. Aku khawatir orang tuanya yang sangat sayang kepada anak itu akan menuruti perintahnya untuk menyembah berhala. Lebih baik aku bunuh saja agar orang tuanya tetap beriman kepada Allah. Dan aku berharap Allah mengganti keturunan orang tua itu dengan seorang anak yang lebih baik” jelas Nabi Khidir.
“ketiga, ketika aku memperbaiki rumah yang hampir roboh.sesungguhnya yang memiliki rumah tersebut adalah anak yang kedua orang tuanya telah meninggal. Didalamnya terdapat harta orang tua sang anak yatim. Aku khawator jika roboh, banyak penduduk desa yang akan merampas harta milik anak yatim tersebut. Begitulah hai Musa penjelasanku, ketahuilah bahwa apa yang telah aku lakukan merupakan petunjuk dan rahmat dari Allah” tutur Nabi Khidir menjelaskan kembali.
“baiklah wahai Musa kita berpisah sampai disini, karena ilmu yang aku miliki dan yang engkau miliki sangatlah berbeda” tutur Nabi Khidir.
Setelah itu, Nabi Musa dan Nabi Khidir berpisah dan tidak bertemu kembali

end.....
Demikian Kisah Nabi Khidir, pada postingan berikutnya, saya ingin share tentanga apakah NABI KHIDIR MASIH HIDUP?
Wassalamualaikum

Download Buku Kenalilah Akidahmu 2

kenali-akidahmu

Bismillahirahman rahim, segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam yang menyeru sekalian hati hamba-Nya untuk selalu turut serta dalam samudera makrifat hingga tenggelam dalam kecintaan kepada-Nya. Shalawat serta salam atas Al-Mustafa Sayyidina Muhammad saw jadilah abadi padanya, keluarganya dan seluruh sahabatnya.

Telah banyak permintaan dari saudara-saudari kita untuk membahas lebih lanjut seputar permasalahan khilafiyah semacam kegiatan Maulid, Tahlil, Ziarah Kubur, Dzikir, Yassin dan beberapa hal ubudiyah lainnya yang menurut sebahagian dari saudara kita dipungkiri kebenarannya.

Buku yang diberi judul “Kenalilah Akidahmu 2”. Pada akhirnya adalah kewajiban bagi kita untuk selalu menyeru dan menyeru atas mereka siapapun mereka selama mereka keturunan Adam as untuk terus mengenal indahnya keagungan islam sebagai akhlaq, pedoman hidup dan aqidah. wallahu a’lam.

Dengan segala kerendahan hati, saya berharap agar kehadiran buku ini turut serta memperkaya khazanah keislaman kita.

Walillahitaufiq, (Munzir Almusawa)

Demikian beberapa paragraf pendahuluan pada Buku Yang berjudul kenlilah akidahmu 2 karangan Habib Munzir Almusaw. Buku ini setebal 312 halaman yang menjawab semua tuduhan bid'ah yang sering diarahkan ke pengikut ahlussunnah. Berikut saya cantumkan daftar isi dari buku ini untuk memperjelas bahasan-bahasan apa saja yang ada didalamnya.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………............…………………………………. i
DAFTAR ISI.……………………………………………................……………....... ii
BAB I DEFINISI BID’AH, HADITS DHO’IF DAN SEJARAH RINGKAS PARA
IMAM DAN MUHADDITSIN
I.1. DEFINISI BID’AH ….....……………………………………. … 1
I.1.1 Nabi Saw Memperbolehkan Berbuat Bid’ah Hasanah …. 1
I.1.2 Siapakah Yang Pertama Memulai Bid’ah Hasanah Setelah
Wafatnya Rasul Saw ….…........………………………..... 2
I.1.3 Bid’ah Dhalalah ……….……………………………........ 7
I.1.4 Pendapat Para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah ... 9
I.2. DEFINISI HADITS DHO’IF ……...…………………………….. 11
I.3. SEJARAH RINGKAS PARA IMAM DAN MUHADDITSIN .. .... 17
BAB II MASALAH KHILAFIYAH DAN DAN SEPUTAR TANYA JAWAB YANG
ADA DI WEBSITE (www.majelisrasulullah.org)
II.1. Ayat Tasbih ………………………………………………………….. 23
II.2. Hukum Majelis Dzikir dan Dzikir Bersama …………………………. 26
II.3. Hukum Alat Musik Rebana di Masjid ………………………………. 28
II.4. Surat Sanggahan ................................................................................. 30
II.4.1 Dalam Hal Shalat …....……………………………………. 31
II.4.2 Dalam Shalat Jum’at ……………………………………… 34
II.4.3 Dalam Shalat Tarawih / Witir / Tahajjud ….……………… 36
II.4.4 Dalam Upacara Ta’ziyah …….…………………………… 38
II.4.5 Dalam Upacara Penguburan ……………………………… 40
II.5. Kenduri Arwah, Tahlilan, Yassinan menurut Para Ulama .................. 41
II.6. Tahlilan .…………………….........................................………….... 49
II.7. Tawassul .……………………................................………………… 52
ii
II.8. Peringatan Maulid .............................................................................. 60
II.9. Tabarruk ............................................................................................. 70
II.10. Istighatsah .………………………........................................………. 75
II.11. Wajibkah Bermadzhab .………............................………………….. 78
II.12. Orangtua Rasul Saw Mati Musyrik ..………................…………….. 79
II.13. Mengirim Pahala dan Bacaan kepada Mayyit..…………….....…….. 85
II.14. Mengangkat Tangan Sesudah Berdoa Sesudah Shalat .…………….. 93
II.15. Bersalaman Bid’ah …………………………………………………. 94
II.16. Cium Tangan Bid’ah ……………………………………………….. 94
II.17. Melafadzkan Niat Menurut Madzhab Syafi’iyah .………………… 98
II.18. Qabliyah Jum’at Tidak Ada …………………………………….… 99
II.19. Shalat Berjama’ah dan Wirid Bersama …………………………….. 101
II.20. Tanda Hitam di Kening / Dahi .…………………………………… 104
II.21. Keutamaan Shalawat Nariyah ( Fiqh / Aqidah ) …………………… 105
II.22. Hukum Adzan dan Iqamah di Kuburan ……………………………. 107
II.23. Jihad ………………………………………………………………… 108
II.24. Foto Ulama dan Kuburan di Masjid ………………………………… 109
II.25. Wanita Ziarah ke Makam …………………………………………… 113
II.26. Nabi Muhammad Saw di Alam Barzakh …………………………… 113
II.27. Zakat Profesi ………………………………………………………. 118
II.28. Cara Menghitung Zakat Harta …………………………………….. 121
II.29. Shalat Tarawih …………………………………………………….. 122
II.30. Hadits Bantahan Amalan Bulan Rajab ……………………………. 123
II.31. Daulah Islamiyyah ………………………………………………… 125
II.32. Nabi Khidir As Masih Hidup ……………………………………… 127
II.33. Sorban dan Imamah Bukan Sunnah Tapi Adat Orang Arab Saja .… 129
II.34. Yasinan Malam Jum’at Haditsnya Palsu ………………………….. 130
II.35. Petasan Kembang Api Maulid adalah Munkar .…………………… 131
II.36. Jawaban Atas Penghinaan Terhadap Ulama Hadramaut, Yaman … 132
II.37. Hukum Bayi Tabung ……………………………………………… 141
II.38. Hadits Sentuhan Didhoif-kan Imam Bukhari …………………….. 141
BAB III PERNYATAAN - PERNYATAAN YANG DIJAWAB..............……......... 144
MASALAH - MASALAH LAINNYA SEPUTAR FIQIH, AKIDAH, TAUHID
DAN LAINNYA ........................................................................................................... 190
JAWABAN UNTUK KECAMAN TERHADAP NABI SAW...…………........…... 229
TEKS ARAB DAN WIRD ALLATHIF (Hujjatul Islam Al Imam Abdullah bin
Alwi Alhaddad) ........................................................................................................... 275
DOA NABI KHIDIR AS ………………………………………………………........ 299
SANAD ILMU …………………………………………………………………........ 301
SANAD SHAHIH MUSLIM …………………………………………………......... 311
SANAD SHAHIH BUKHARI ................................................................................... 312
PROFIL PENULIS

Untuk mendownload buku ini silahkan melalui link page Download Berikut.

Ilmu Tauhid

Bissmillah
Assalamualaikum Sahabtku
Sebagai pembukaan,Imam Sayyidina Ali radiiyallahu'anhu mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“
Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221: “Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?.”

Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya, atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

Hadit kisah budak Jariyah di dalam kitab Sahih Muslim yang diriwayatkan oleh Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami tidak bisa dijadikan landasan untuk i’tiqod karena pertanyaan “di mana” atau “bagaimana” tidak patut disandarkan kepada Allah ta’ala
Hadits tersebut tidak diletakkan dalam bab tentang iman (i’tiqod) namun pada bab tentang sholat.
Hal pokok yang disampaikan oleh hadits terebut adalah pada bagian perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang artinya, “Sesungguhnya shalat ini, tidak pantas di dalamnya ada percakapan manusia, karena shalat itu hanyalah tasbih, takbir dan membaca al-Qur’an.”
Pada saat Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami meriwayatkan kisah budak Jariyah, beliau dalam keadaan baru masuk Islam yang dapat diketahui dengan pernyataannya “Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya aku adalah seorang yang baru saja berada di dalam kejahiliyahan kemudian datang Islam”. Jadi redaksi/matan kisah budak Jariyah adalah periwayatan Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami secara pribadi.

Ada riwayat-riwayat yang lain yang lebih menjelaskan pemenuhan syarat sebagai orang beriman seperti Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikhabarkan oleh `Atha`, bahwasanya seorang laki-laki memiliki seorang budak perempuan yang dipekerjakannya untuk mengembalakan kambingnya dan kambing-kambing ini merupakan kambing pilihan – yakni dari kambingnya yang banyak itu-. Kemudian ia bermaksud memberikannya (kambing tersebut) kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam Lalu tibalah binatang buas dan menerkam kambingnya. Si laki-laki kemudian marah dan menampar wajah budak perempuan. Si lak-laki lantas mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menyebutkan semua yang terjadi kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam. Ia juga menyebutkan bahwa ia mesti membebaskan seorang budak yang beriman sebagai kafarah dan ia bermaksud untuk menjadikan budak ini sebagai budak yang dibebaskannya ketika ia menamparnya itu. Maka Rasul shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya: “Datangkanlah ia kepadaku!”. Rasul shallallahu alaihi wasallam kemudian menanyainya (budak wanita): “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “kematian serta kebangkitan adalah sesuatu yang haq?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “surga dan neraka dalah haq?” Ia menjawab: “Iya”. Ketika selesai dialog tersebut, Rasul shallallahu alaihi wasallam mengatakan: “Bebaskanlah ia atau tetap bersamamu!” (`Abdul Razzaq, Mushannaf, hadits no.: 16815 )

Disampaikan kepadaku oleh Imam Malik: dari Syihab dari `Ubaidillah Bin Abdullah Bin `Uthbah Bin Mas`ud bahwasanya seorang laki-laki dari kalangan Anshar mendatangi Rasul shallallahu alaihi wasallam ia memiliki seorang budak wanita berkulit hitam dan berkata: Wahai Rasul shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya saya mesti membebaskan seorang budak beriman, jikalau engkau melihatnya beriman, maka bebaskanlah ia. Maka Rasul shallallahu alaihi wasallam berkata kepadanya (budak wanita) “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” Ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah?” ia menjawab: “Iya”. Dan “apakah engkau meyakini adanya kebangkitan setelah kematian?! Ia menjawab: “Iya”. Rasul shallallahu alaihi wasallam kemudian mengatakan : “bebaskanlah ia” (Imam Malik, Al Muwatha`, hadits no.: 1469)

Begitupula Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).
Begitupula ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melaksankan mi’raj bukanlah perjalanan menuju ketempat Allah ta’ala berada

Ulama yang sholeh dari kalangan keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki berkata “Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada beliau, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya. Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.“

Syaikh Nawawi al Bantani berkata,
Barang siapa meninggalkan 4 kalimat maka sempurnalah imannya, yaitu
1. Dimana
2. Bagaimana
3. Kapan dan
4. Berapa
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Dimana Allah ?
Maka jawabnya : Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh masa
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana sifat Allah ?
Maka jawabnya : Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Kapan adanya Allah ?
Maka jawabnya : Pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Ada Berapa Allah ?
Maka jawabnya : Satu Sebagaimana firman Allah Ta`ala di dalam Qalam-Nya surat Al-Ikhlas ayat pertama : “Katakanlah olehmu : bahwa Allah itu yang Maha Esa ( Satu ).
Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana Dzat dan sifat Allah ?
Maka jawabnya : Tidak boleh membahas Dzat Allah Ta`ala dan Sifat-sifatnya. Karena meninggalkan pendapat itu sudah termasuk berpendapat. Membicarakan Zat Allah Ta`ala menyebabkan Syirik. Segala yang tergores didalam hati anda berupa sifat-sifat yang baru adalah pasti bukan Allah dan bukan sifatnya.

Dalam al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu”

Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata
“Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan”

Hal yang harus kita ingat bahwa perbedaan pemahaman dalam i’tiqod bukanlah perbedaan yang bersifat furu (cabang) namun perbedaan yang bersifat pokok dan harus dihindari agar tidak terjerumus kedalam kekufuran dalam i’tiqod.
Kesalahpahaman mereka dalam ilmu tauhid karena mereka memahami ayat-ayat mutasyabihat dengan makna dzahir yang terkait dengan makna harfiah atau makna leksikal yakni makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau kalimat atau makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah susunan kata atau kalimat.
Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”,
“Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan
“Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”

Dalam kitab ilmu tauhid berjudul “Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Ummil Barahin”, Syaikh Al-Akhthal berkata :
“Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai tangan (jisim) namun tidak serupa dengan tangan makhluk (jisim-jisim lainnya), maka orang tersebut hukumnya ‘Aashin atau orang yang telah berbuat durhaka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala”

Imam Sayyidina Ali Radhiiyallahu'anhu mengatakan bahwa mereka yang mensifati Allah ta’ala dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan adalah mereka yang mengingkari Allah Azza wa Jalla.

Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra berkata : “Sebagian golongan dari umat Islam ini ketika kiamat telah dekat akan kembali menjadi orang-orang kafir (kufur dalam i’tiqod)”.
Seseorang bertanya kepadanya : “Wahai Amirul Mukminin apakah sebab kekufuran mereka? Adakah karena membuat ajaran baru atau karena pengingkaran?”
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib ra menjawab : “Mereka menjadi kafir karena pengingkaran. Mereka mengingkari Pencipta mereka (Allah Subhanahu wa ta’ala) dan mensifati-Nya dengan sifat-sifat benda dan anggota-anggota badan.”

Sekian semoga bermanfaat, mudahan ini bisa menjadi penangkal untuk kita tidak terjerumus ke faham-faham baru yang menyesatkan.
Wassalamualaikum

ilmu Tauhid
sumber : http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/11/19/ilmu-tauhid/

Rabu, 05 Desember 2012

Kumpulan Kisah-Kisah Nasrudin


Bismillah
Assalamulaikum saudara ku
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi beberapa kisah humor dan mendidik dari kisah-kisah Nasrudin. Ada yang belum tahu siapa Nasrudin (wait Bukan Nasarudin tokoh-tokoh koruptor yang di DPR sana), berikut adalah sedikit tentang Nasrudin yang saya terjemahin menggunakan google translate....maaf bahasa inggris saya masih seadanya, yang sementara ini hanya bisa menerima dan sedikit sekali memeberi.

Mullah, Nasrudin Hoja muncul sebagai karakter unik dalam tradisi yang berkembang dari cerita. Kisah Nasrudin terkadang diadaptasi dan digunakan sebagai cerita pembelajaran oleh pengikut jalan sufi.
Selenkapnya bisa di cek di sini en.wikibooks.org/wiki/Sufism/Nasrudin 

Jika anda tertarik juga membaca beberapa kisah inspiratif, kisah sufi, kisah para sahabat nabi, kisah para ulama, kisah para wali dan pembesar-pembesar islam lainnya bisa ada buka link berikut KISAH MOTIVASI.

Ok berikut adalah beberapa kisah Nasrudin, semoga bisa menghibur 


Relivitas Keju

Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,
“Aku punya sepotong keju untukmu,” kata istrinya.
“Alhamdulillah,” puji Nasrudin, “Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut.”
Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.
“Adakah keju untukku ?” tanya Nasrudin.
“Tidak ada lagi,” kata istrinya.
Kata Nasrudin, “Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi.”
“Jadi mana yang benar ?” kata istri Nasrudin bertanya-tanya, “Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?”
“Itu tergantung,” sambut Nasrudin, “Tergantung apakah kejunya ada atau tidak.”

end...

Tidak Terlalu Dalam

Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi — kita tahu — menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.
Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan tahi sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.
Nasrudin kemudian bertanya, “Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?”
Hakim tersenyum lebar. “Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya.” Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. “Wah, enak benar mentega ini!”
“Yah,” jawab Nasrudin, “Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam.” Dan berlalulah Nasrudin.

end... 

Kisah Sufi, Kisah Sukarno dan Mati Tersenyum

Jubah Jatuh

Nasrudin pulang malam bersama teman-temannya. Di pintu rumah mereka berpisah. Di dalam rumah, istri Nasrudin sudah menanti dengan marah. “Aku telah bersusah payah memasak untukmu sore tadi !” katanya sambil menjewer Nasrudin. Karena kuatnya, Nasrudin terpelanting dan jatuh menabrak peti.
Mendengar suara gaduh, teman-teman Nasrudin yang belum terlalu jauh kembali, dan bertanya dari balik pintu,
“Ada apa Nasrudin, malam-malam begini ribut sekali?”
“Jubahku jatuh dan menabrak peti,” jawab Nasrudin.
“Jubah jatuh saja ribut sekali ?”
“Tentu saja,” sesal Nasrudin, “Karena aku masih berada di dalamnya.”

end... 

Kekelan Massa

Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, “Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini.”
Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja.
“Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?”
Istrinya menjawab, “Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!”
Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,
“Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?”

end... 

Membalik Logika

Seorang yang filosof dogmatis sedang meyampaikan ceramah. Nasrudin mengamati bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek intelektual yang tidak realistis. Setiap masalah didiskusikan dengan menyitir buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang tidak semestinya.
Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyanya sendiri. nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali. Sang penceramah mulai kesal.
“Engkau bahkan membaca bukuku terbalik!”
“Aku tahu,” jawab Nasrudin acuh, “Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya mempelajari jalan pikiranmu.”

end... 

Manipulasi Deskripsi

Nasrudin kehilangan sorban barunya yang bagus dan mahal. Tidak lama kemudian, Nasrudin tampak menyusun maklumat yang menawarkan setengah keping uang perak bagi yang menemukan dan mengembalikan sorbannya.
Seseorang protes, “Tapi penemunya tentu tidak akan mengembalikan sorbanmu. Hadiahnya tidak sebanding dengan harga sorban itu.”
“Nah,” kata Nasrudin, “Kalau begitu aku tambahkan bahwa sorban itu sudah tua, kotor, dan sobek-sobek.”

end...

Bahasa Kurdi


Tetangga Nasrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nasrudin. Sebetulnya Nasrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.
“Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash.”
“Bagaimana dengan sop dingin ?”
“Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi.”



Sekian, kisah-kisah sufi, kisah sufi, kisah sufi lucu, semoga bermanfaat dan bisa menghibur
Wassalamualaikum

Qunut di Waktu Shalat Subuh


Bismillah
Assalamualaikum Saudaraku

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan share tentang permasalahan Qunut di Waktu Shalat subuh, jadi nantinya kita di sini akan membahas tentang dalil-dalil yang berkaitan dengan Qunut di Waktu Shalat Subuh, bolehkah Qunut selain dari shalat subuh, doa-doa pada waktu qunut dan lain sebagainya.

Perlu dimaklumi ini adalah saya kutif dari salah satu bab dalam Kitab Ulama klasik Al-Adzkar (Inti sari ibadah dan Amal) karya Imam An-Nawawi yang insyaAllah kitab yang saya pegang ini masih murni tanpa perubahan. Dan mudahan kedepannya saya bisa terus menghadirkan terjemahan dari bab-bah pembahasan yang ada di Kitab Al-Adzkar ini, semoga Allah memberikan saya semangat, kekuatan dan juga kesehatan...aamiin.

Terjemahan Kitab Al-Adzkar Karangan Imam An-Nawai



Ketahuilah Qunut di waktu shalat subuh adalah Sunnah muakkad. Andaikata ditinggalkan baik sengaja, maupun karna lupa, tidak batal shalatnya, akan tetapa melakukan sujud sahwi.

Di riwayatkan oleh Al-Hakim, bahwa Anas ra. Berkata : “ Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam tetap melakukan qunut di waktu subuh hingga beliau meninggal. “ Hadis Sahih

Timbul Pertanyaan, apakah boleh melakukan Qunut selain pada waktu shalat subuh?

Ada tiga pendapat bagi As-Syafii Rahimahullah : yang paling sahih dan mashur adalah, bila timbul bencana pada kaum muslim, mereka boleh melakukan qunut, selain daripada shalat subuh, dan jika tidak ada, maka tidak boleh. Yang kedua boleh melakukan Qunut secara muttla, dan yang ketiga, tidak boleh sama sekali.

Dianjurkan melakukan Qunut pada separuh terakhir dari bulan Ramadhan dalam rekaat terakhir dari shalat Witir. Kami mempunyai pendapat untuk melakukan Qunut dalam shalat Witir selama bulan Ramadhan, pendapat ketiga dalam keseluruhan tahun, yaitu mazahab Abu Hanifah. Dan yang terkenal dalam mazhab kami adalah pendapat yang pertama.

Ketahuilah, saat ber-Qunut dalam shalat Subuh adalah sesudah mengangkat kepala dari rukuk dalam rekaat kedua. Malik berpendapat : Qunut dilakukan sebelum rukuk. Sahabat-sahabat Imam Nawawi berpendapat : Andaikata seseorang yang ber-mazhab Syafii melakukan qunut sebelum rukuk, tidaklah itu dianggap qunut. Kami mempunyai pendapat bahwa ia dianggap Qunut. Yang paling tepat ialah ia mengulanginya sesudah rukuk dan melakukan sudjut sahwi. Adapula yang mengatakan tidak perlu melakukan sujud sahwi.

Adapun lafaznya, maka yang terpilih adalah mengucapkan seperti yang diriwayatkan dalam hadis sahih Sunan Abu Daud, Tirmizi1, Nasa'i, Ibnu Majjah dan Baihaqi serta lainnya, dengan isnad sahih dari Hasan bin Ali Radiiyallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalllam mengajarkan aku kata-kata yang kuucapkan dalam shalat Witir.

Pembahasan lengkap tentang Qunut di Waktu Shalat subuh karna agak panjang, silahkan bisa anda download pdf-nya melalui page download di blog pojo motivasi ini.

Sekian semoga bermanfaat
Wassalamualikum
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Motivasi dan Inspirasi Template by Bamz | Publish on Bamz Templates